"Seorang kepala keluarga bernama Suyatmo, 58 Tahun, mengisi lebih dari 20 tahun umurnya dengan bekerja mencari nafkah sembari merawat istrinya yang sakit, dan mendidik serta membesarkan keempat anaknya hingga semua menikah. Istrinnya menderita lumnpuh, seluruh tubuhnya menjadi lemah seperti tak bertulang, dan lidahnya kaku tak bergerak, sejak keempat anaknya lahir. dari saat itu, setiap hari Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berengkat kerja, Suyatno membaringkan istrinya d depan tv supaya tidak merasa kesepian. Sepulang kerja, selepas maghrib Suyatno temani istrinya menonton tv sambil menceritakan semua kejadian yang dialaminya seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tanpa kata, Suyatno sudah cukup senang, bahkan selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Suatu hari, keempat anaknya yang sudah tinggal terpisah bersama keluarga masing-masing datang menjenguk ibu mereka. Saat itu, mereka berkata kepada Suyatno, "sudah empat kali kami mengijinkan Bapak menikah lagi. Kami rasa ibu pun akan mengijinkan. Kapan bapak akan menikmati masa tua jika terus seperti ini? kami sudah tidak tega meilhat bapak. Kami janji akan merewat ibu bergantian." Tapi tawaran itu dijawab oleh Suyatno dengan pernyataan yang mungkin tak pernah disangka oleh mereka, "anakku. Kalaulah hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah. Tapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian disampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satu pun hal yang lebih berharga lebih daripada ini. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaan seperti ini?Kalian menginginkan Bapak bahagia, tapi apakah batin bapak bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang?" Anak-anaknya pun menangis mendengar jawaban itu. Dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun tv swasta, Suyatno ditanya alasannya kenapa ia bisa bertahan selama 25 tahun merawat istri yang sudah tidak bisa apa-apa. Dia menjawab, "Manusia di dunia ini sering mengagungkan cinta, tapi mereka tidak mencintai Allah, maka semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya. Sewaktu dia sehat, dia pun dengan sabar merawat saya. Mencintai saya dengan hati dan batinnya. Bukan dengan mata. Dan dia telah memberi saya empat orang anak yang lucu-lucu."
Kisah yang bisa memberikan pelajaran banyak pada kita. sejujurnya kisah ini mirip sekali seperti kisah yang pernah mentor saya ceritakan, namun dalam hikmah lain. Bahwa keluarga menjadi energi untuk tetap melanjutkan hidup, bagaimana pun keadannya. dan pada saat kita telah menemukan itu dalam hidup kita, hari-hari kita akan menempuh umur, akan selalu terasa indah dan nyaman. Seperti setiap detik yang Pak Suyatno ajarkan pada kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar