sepertinya kejadian yang satu ini masih menyisakan sesak, sesak yang mugkin tidak dapat hilang hanya dalam beberapa hari saja. Waktunya membuktikan, mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah aku dapatkan sebelumnya tenatng mengelola kebahagiaan, karena kebahagiaan itu sebenarnya bisa dikelola. Aku pun tak lebuh dari manusia biasa yang jauh dari sempurna dan tentu kekecewaan ini seringnya menelisik lebih jauh kedalam--bahkan lebih dalam dari yang bisa terkira-. Mengungkit mencoba membangkitkan kekecewaan lain, entah mengapa kebiasaan yang bisa dikatakan buruk itu muncul. Mengungkit masa lalu yang mengecewakan. Akhirnya, baik pikiran, otak dan seluruh anggota tubuh harus bekerja ekstra keras memunculkan berbagai peristiwa yang setidaknya harus bisa mengobati hal ini. Because we are winner, right? always see pain became gain...
Jika harus mengingat si pain mungkin bisa dikatakan beribu, namun ketika memunculkan lagi kenikmatan Sang Maha Langit akan muncullah jutaan nikmat yang jika harus disebutkan satu persatu, akunya yang tak mampu, kewalahan? atau mungkin memang tak akan pernah mampu. Lalu apa? harus bagaimana, jika terus saja bertubi ditimpa hal yang tidak diinginkan, atau bahkan semacam peristiwa yang tidak disangka, membuat sekujur tubuh rasanya ingin menjerit kesakitan, namun tidak pernah bisa mengeluarkan, bahkan sedikitpun tidak bisa. dan ada yang berbisik "tidak perlu berteriak menjerit, Dia telah tahu. Lebih tahu sebelum engkau ingin menjerit.." Buzzhh. Seperti diguyur air hujan, air yang tadinya ingin jatuh dari kedua mata, diguyur oleh deranya hujan yang lebih besar. "Ya, Dia maha Tahu".
Bagaimana aku bisa marah, jika yang memberikan kecewa ini juga yang memberi seluruh nikmat tanpa terkecuali, bagaimana akan geram jika yang memutuskan jalan seperti ini ada pelukis kehidupanku. Akhirnya, lutut-lutut ini seperti tak kuat menahan beban tubuh lagi, tersungkur menahan malu, menahan seluruh partikel yang ada dalam tubuh ini. Berikan satu kesadaran abadi. hidup ini tak selalu terjadi seprti apa yang aku inginkan, tapi Allah lah yang membuat keinginan kita terwujud, di tempat dan waktu yang tepat.
Setelah hujan, kita tak pernah memungkiri akan ada elangi indah yang menghiasi langit. Setelah kesedihan kita tidak akan pernah tahu akan ada kejutan lain. Sehingga, tak pantaslah hanya mematut wajah tak enak dilihat di depan cermin ataupun dihadapan orang lain, saat kesedihan atau kekecewaan itu datang, sambutlah mereka, karena jika dirimu tahu siapa dibalik pemberi itu tentunya tidak akan sungkan untuk menerima mereka ke dalam perjalanan hidup kita.
Kuluman senyum selalu akan merekah jika mereka datang pada kehidupanku,
Kesedihan, mana sini..biar aku buang dan secara otomatis tubuh dan pikiran ini akan mendaurulangmu menjadi kebahagiaan.
Kekecewaan, mana sini..biar aku buang ke cucian, layaknya baju putih kotor yang akan aku cuci dengan deterjen keikhlasan, biar baju diri ini bersih kembali.
keputusasaan, mana sini, biar aku buang ke tempat dimana selalu ada semangat..biar nanti kau akan berubah menjadi segumpal semangat yang tidak akan berheni berkibar.
ada lagi yang ingin dibuang??
silahkan buang ketempat yang tepat.
sebuah tempat yang aku jadikan untuk berbagi ilmu juga menggali kemampuan menulis dengan begini tidak akan melupakan bagaimana setiap kejadian terlewati. dengan menorehkan tinta aku tidak akan lupa bagaimana tinta itu habis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Yang Orang katakan tentang menjadi “Dewasa”
Sekelumit “ini” dan “itu” seakan berputar-putar di kepala. Ini sudah masanya dimana orang-orang mencari cara untuk menghabiskan waktunya(b...
-
Bismillahirrohmanirrohim.. Dem zat yang jiwaku ada dalam genggamanNya, Demi setiap hal yang tidak ada satupun yang luput dalam pandanganNy...
-
bismillahirrohmanirrohim sekeping hati di bawa berlari jauh melalui jalanan sepi jalan kebenaran indah terbentang di depan matamu para ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar